Network observability kini menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan modern. Saat organisasi semakin banyak menggunakan cloud, menerapkan SD-WAN, SASE, dan mulai mengadopsi aplikasi berbasis AI, jaringan tidak lagi hanya dituntut untuk “berfungsi”, tetapi juga harus andal, transparan, dan mudah dikelola.
Namun, kenyataannya tidak semua perusahaan siap.
Menurut laporan terbaru dari Enterprise Management Associates (EMA) bekerja sama dengan BlueCat, banyak organisasi merasa sudah berinvestasi besar dalam tools observability, tetapi hasilnya belum maksimal. Laporan tahun 2025 berjudul The Network Observability Maturity Model menunjukkan bahwa hanya 46% organisasi yang merasa benar-benar sukses dengan solusi observability mereka. Sisanya masih “terjebak di tengah jalan”.
Akibatnya nyata: operasional jadi tidak efisien, tim IT kelelahan karena terlalu banyak alert, terlalu banyak tools yang tidak terintegrasi, dan jaringan sulit memenuhi kebutuhan bisnis yang makin menuntut uptime dan fleksibilitas tinggi.
Lima Tahap Kematangan Network Observability
EMA membagi tingkat kematangan network observability ke dalam lima tahap, mulai dari yang paling dasar hingga paling canggih berbasis AI. Sayangnya, kebanyakan perusahaan berada di dua tahap tengah, yaitu:
1. Fragmented and Opportunistic (Terpecah dan Reaktif)
Di tahap ini, perusahaan menggunakan banyak tools yang berdiri sendiri. Ada dashboard vendor, monitoring traffic, packet capture, dan lain-lain, tetapi tidak saling terhubung.
Akibatnya:
-
Tim hanya melihat sebagian jaringan, bukan gambaran utuh
-
Setiap masalah terasa seperti kebakaran besar
-
Korelasi antar data dilakukan manual
EMA menemukan bahwa 87% perusahaan menggunakan lebih dari satu tool observability, bahkan sering menambah tool baru untuk menutup “blind spot”. Ironisnya, ini justru menambah kompleksitas, bukan kejelasan.
2. Integrated and Centrally Managed (Terintegrasi Terpusat)
Di tahap ini, tools mulai disatukan dan dikelola secara terpusat. Kinerja jaringan dipantau secara proaktif dan dikaitkan dengan SLA.
Namun, masih ada keterbatasan:
-
Automasi masih minim
-
Analitik belum cerdas
-
Tim tetap bersifat reaktif, bukan prediktif
Tahap ini terasa lebih baik, tetapi sering menjadi titik stagnasi jika tidak dilanjutkan dengan automasi dan AI.
Mengapa Kematangan Network Observability Sangat Penting?
Perbedaan antara observability “setengah matang” dan observability yang matang sangat besar, bukan sekadar peningkatan kecil.
Menurut EMA, organisasi yang lebih matang mendapatkan manfaat besar dalam empat area utama:
-
Agility: Masalah lebih cepat diselesaikan karena data mudah dipahami
-
Efficiency: Lebih sedikit kerja manual, engineer bisa fokus ke tugas bernilai tinggi
-
Security: Data jaringan membantu deteksi ancaman lebih dini
-
Resilience: Jaringan lebih stabil dan gangguan bisa dicegah sebelum terjadi
Intinya, observability yang matang bukan sekadar “melihat lebih banyak”, tapi memahami lebih cepat dan bertindak lebih cerdas.
Apa yang Membedakan Pemimpin dan yang Tertinggal?
EMA menemukan pola jelas yang membedakan organisasi yang unggul dengan yang tertinggal:
1. Mengurangi Tool Sprawl lewat Integrasi
Perusahaan terbaik tidak sekadar punya banyak tools, tapi mengintegrasikannya secara mendalam, termasuk alur alert, laporan, dan automasi.
2. Memperluas Cakupan Data
Mereka menggabungkan data dari perangkat jaringan, traffic, cloud, dan software-defined network untuk menghilangkan blind spot. Hasilnya, mereka 3 kali lebih mungkin sukses dengan observability.
3. Alert Lebih Tepat dan Kontekstual
Hanya 29% alert yang benar-benar actionable. Organisasi matang menggunakan alert cerdas dengan konteks bisnis, sehingga tim tidak tenggelam dalam noise.
4. Automasi dan AI
Tim paling matang menggunakan AI untuk:
-
Mendeteksi anomali
-
Memprediksi masalah
-
Menjalankan perbaikan otomatis
Hasilnya: waktu pemulihan lebih cepat dan beban operasional lebih rendah.
Cara Naik ke Tahap Berikutnya
EMA dan BlueCat merekomendasikan lima langkah utama:
-
Integrasikan tools lintas domain (network, cloud, security)
-
Otomatisasi pengumpulan data secara real-time
-
Gunakan dashboard terpadu yang bisa disesuaikan
-
Terapkan alert berbasis konteks, bukan ambang statis
-
Manfaatkan AI untuk prediksi dan optimasi
Langkah-langkah ini mengubah tim NetOps dari sekadar “memadamkan api” menjadi tim yang visioner dan proaktif.
Observability sebagai Fondasi Modernisasi Jaringan
Bagi BlueCat, network observability bukan sekadar alat operasional, tapi fondasi modernisasi jaringan.
Dengan menggabungkan visibilitas DNS, DHCP, dan IP (DDI), serta solusi automasi dan observability, organisasi dapat:
-
Mengurangi silo dan tools berlebih
-
Mengotomatiskan proses inti
-
Meningkatkan ketahanan jaringan
-
Memperkuat kolaborasi NetOps, SecOps, dan tim cloud
Inilah ciri organisasi modern yang siap AI.
Di Mana Posisi Organisasi Anda?
Mayoritas perusahaan masih terjebak di tengah kurva kematangan network observability. Tapi kabar baiknya: Anda tidak harus tetap di sana.
Model EMA memberikan peta jalan yang jelas untuk melangkah maju. Dengan observability yang matang, jaringan tidak lagi sekadar infrastruktur pendukung, tetapi menjadi aset strategis yang mendorong kesuksesan bisnis.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan liveaction indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi liveaction.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
